TVRINews, Nunukan
Perjalanan hidup Kapolres Nunukan AKBP Ruslaeni menjadi bukti kegagalan bukan akhir dari sebuah cita-cita. Putra kelahiran Tarakan itu pernah gagal saat mengikuti seleksi Akademi Kepolisian (Akpol). Berkat kegigihan dan doa orang tua, ia akhirnya diterima dan kini dipercaya memimpin Polres Nunukan, wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia yang memiliki tantangan keamanan dan sosial cukup kompleks.
Di balik perjalanan kariernya, Ruslaeni selalu memegang teguh satu pesan dari orang tuanya. "Jangan sekali-sekali menyakiti masyarakat."
Kalimat tersebut bukan sekadar nasihat, melainkan lahir dari pengalaman pribadi keluarganya. Ayah dan ibunya, almarhum Nurdin dan Nursiah, yang bekerja sebagai petani tambak di Tarakan, pernah mengalami perlakuan tidak semestinya dari oknum aparat saat membawa kayu untuk membangun rumah.
Pengalaman itu membekas hingga Ruslaeni memilih menjadi anggota Polri. Pesan tersebut terus menjadi pegangan dalam setiap penugasan, termasuk saat dipercaya memimpin Polres Nunukan.
Ruslaeni lahir di Tarakan pada 21 November 1983 sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Kedua orang tuanya hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar. Meski hidup sederhana sebagai petani tambak udang dan ikan, mereka berhasil menyekolahkan seluruh anaknya.
Keinginan menjadi taruna muncul sejak kecil. Saat itu ibunya mengajak melihat KRI Dewaruci yang singgah di Tarakan. Kehadiran para taruna TNI Angkatan Laut membuatnya terpukau.
"Dari situ muncul niat, saya ingin seperti ini," kenang AKBP Ruslaeni, dalam keterangan yang diterima Jumat, 7 Agustus 2026.
Cita-cita tersebut terus ia pelihara hingga lulus dari SMA Hang Tuah pada 2003.
Setelah lulus SMA, Ruslaeni mengikuti seleksi Akpol pada 2003. Hasilnya tidak sesuai harapan. Ia gagal pada percobaan pertama. Saat itu informasi mengenai proses seleksi masih sangat terbatas, terlebih ia bukan berasal dari keluarga polisi. Seorang kakaknya memang telah menjadi anggota Polri, tetapi masih berpangkat Brigadir Polisi Dua.
"Maklum, kita baru lulus SMA, masih awam," ujarnya.
Orang tuanya sempat menyarankan agar memilih jalur Bintara. Namun, Ruslaeni meminta satu kesempatan lagi untuk mencoba masuk Akpol.
Pada 2004, ia kembali mengikuti seleksi dengan persiapan lebih matang. Dari sekitar 150 peserta, hanya empat orang yang dinyatakan lulus di wilayah yang saat itu masih berada di bawah Polda Kalimantan Timur.
Ruslaeni menjadi salah satunya, bahkan menjadi satu-satunya peserta asal Tarakan yang lolos.
"Dari Kaltara cuma saya sendiri," katanya.
Lulus Akpol pada 2007, Ruslaeni mendapat penugasan pertama di Papua. Ia bertugas di Polres Jayapura dan Polres Biak Numfor. Menurutnya, bertugas di Papua memberikan banyak pelajaran, terutama dalam memahami karakter masyarakat sebelum mengambil tindakan.
"Kalau mereka tidak kena miras, sebenarnya masyarakat Papua baik-baik," katanya.
Ia juga mempelajari penerapan hukum adat yang masih kuat di tengah masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi bekal saat kembali bertugas di Kalimantan. Setelah menyelesaikan pendidikan lanjutan pada 2015, Ruslaeni bertugas di Polda Kalimantan Timur. Ia kemudian dipercaya menjadi Kasat Reskrim Polres Malinau pada 2016–2017, dilanjutkan sebagai Kasat Reskrim Polresta Balikpapan hingga 2018.
Ketika Polda Kalimantan Utara resmi terbentuk, Ruslaeni kembali ke daerah asal dan menjabat Kanit Tipikor. Kariernya terus berkembang. Ia mengikuti pendidikan Sespim pada 2023 dan lulus pada Oktober tahun yang sama. Setelah itu, ia bertugas di Polda Kepulauan Riau sebagai Staf Pribadi Pimpinan Kapolda Kepri, Kasubdit Indagsi Direktorat Reserse Kriminal Khusus, kemudian bergeser ke Direktorat Reserse Narkoba. Beberapa bulan kemudian, telegram dari Mabes Polri membawanya pulang ke Kalimantan Utara untuk mengemban amanah sebagai Kapolres Nunukan.
Sebagai Kapolres Nunukan, Ruslaeni menghadapi berbagai tantangan, mulai dari mobilitas masyarakat lintas negara, perdagangan perbatasan, penyelundupan, narkotika, hingga persoalan keimigrasian.
Baginya, seluruh tantangan itu bermuara pada kepercayaan masyarakat. Pengalaman keluarga yang pernah merasakan perlakuan tidak adil membuatnya memahami pentingnya menggunakan kewenangan secara bijaksana. Pesan orang tuanya tetap menjadi pengingat dalam menjalankan tugas.
"Jangan sekali-sekali menyakiti Masyarakat," pungkasnya.
Bagi ayah tiga putra itu, setinggi apa pun pangkat dan jabatan seorang polisi, tugas utamanya tetap melindungi dan melayani masyarakat. Perjalanan Ruslaeni berawal dari keluarga petani tambak di Tarakan, sempat gagal menembus Akpol, kemudian meniti karier di Papua, Kalimantan, hingga Kepulauan Riau. Kini ia kembali ke tanah kelahirannya dengan amanah memimpin Polres Nunukan, membawa pesan sederhana yang terus ia pegang sepanjang pengabdiannya.









